Selasa, 08 Juli 2014

FILSAFAT PENDIDIKAN

FILSAFAT PENDIDIKAN
Disampaikan oleh:
Dr. H. Mohammad Siddik, Drs., M.Pd
PGSD FKIP Unmul

1.      Pengertian Filsafat
Kata filsafat berasal dari bahasa Yunani. Terdiri dari kata philos yang berarti cinta, senang, dan suka. Kata sophia berarti pengetahuan, hikmah, dan kebijaksanaan (Ali, 1986:7). Shadily (1984:9) mengatakan bahwa filsafat menurut asal katanya adalah cinta akan kebenaran. Pengertian filsafat adalah cinta pada ilmu pengetahuan atau kebenaran, suka kepada hikmah dan kebijaksanaan. Jadi, orang yang berfilsafat adalah orang yang mencintai akan kebenaran, berilmu pengetahuan, ahli hikmah dan kebijaksanaan. Harold Titus mengemukakan pengertian filsafat sebagai berikut.
            Filsafat adalah sekumpulan sikap dan kepercayaan terhadap kehidupan dan alam yang biasanya diterima secara kritis;
            Filsafat ialah suatu proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan dan sikap yang sangat kita junjung tinggi;
            Filsafat adalah usaha untuk mendapatkan gambaran keseluruhan;
            Filsafat ialah analisis logis dari bahasan dan penjelasan tentang arti konsep;
            Filsafat ialah sekumpulan problema yang langsung mendapat perhatian manusia dan dicarikan jawabannya oleh ahli filsafat pendidikan.

2.      Pengertian Filsafat Pendidikan
Menurut John Dewey, filsafat pendidikan merupakan pembentukan kemampuan dasar yang fundamental, baik yang menyangkut daya pikir (intelektual) maupun daya perasaan (emosional), menuju tabiat manusia. Dalam hubungan ini, pendidikan adalah usaha mengubah tingkah laku individu dalam kehidupan pribadinya sebagai bagian dari kehidupan masyarakat dan kehidupan alam sekitarnya. Dalam hubungan antara filsafat umum dan filsafat pendidikan, filsafat pendidikan memiliki beberapa batasan sebagai berikut.
            Filsafat pendidikan merupakan pelaksana pandangan filsafat dan kaidah filsafat dalam bidang pengalaman kemanusiaan yang disebut pendidikan. Filsafat pendidikan berusaha untuk menjelaskan dan menerangkan supaya pengalaman bermanusia ini sesuai dengan kehidupan baru.
            Filsafat pendidikan sebuah kajian dalam mengembangkan pandangan terhadap proses pendidikan dalam upaya memperbaiki keadaan pendidikan.
            Filsafat pendidikan memiliki prinsip-prinsip, kepercayaan, konsep, andaian yang terpadu satu sama lainnya.

3.      Ruang Lingkup Bahasan Filsafat dan Filsafat Pendidikan
Filsafat adalah studi secara kritis mengenai masalah-masalah yang timbul dalam kehidupan manusia dan merupakan alat dalam mencari jalan keluar yang terbaik agar dapat mengatasi permasalahan hidup dan kehidupan yang dihadapi. Artinya, filsafat bertujuan memberikan pengertian yang dapat diterima oleh manusia mengenai konsep-konsep hidup secara ideal dan mendasar bagi manusia agar mendapatkan kebahagiaan dan kesejahteraan. Dengan demikian, ruang lingkup filsafat adalah semua lapangan pemikiran manusia yang komprehensif. Segala sesuatu yang mungkin ada dan benar-benar ada (nyata), baik material konkret maupun nonmaterial (abstrak). Jadi, objek filsafat itu tidak terbatas (Noorsyam, 1988: 22). Secara makro, yang menjadi objek pemikiran filsafat , yaitu permasalahan kehidupan manusia, alam semesta, dan alam sekitarnya, juga merupakan objek pemikiran filsafat pendidikan. Secara mikro, ruang lingkup filsafat pendidikan, meliputi:
            Merumuskan secara tegas sifat hakikat pendidikan;
            Merumuskan sifat hakikat manusia, sebagai subjek dan objek pendidikan;
            Merumuskan secara tegas hubungan antara filsafat, filsafat pendidikan, agama dan kebudayaan;
            Merumuskan hubungan antara filsafat, filsafat pendidikan, dan teori pendidikan;
            Merumuskan hubungan antara filsafat negara (ideologi), filsafat pendidikan dan politik pendidikan (sistem pendidikan);
            Merumuskan sistem nilai-norma atau isi moral pendidikan yang merupakan tujuan pendidikan (Tim Dosen IKIP Malang:65)
Menurut Will Durant ruang lingkup studi filsafat itu ada lima, yaitu : logika, estetika, etika, politik, dan metafisika.



4.      Hubungan Filsafat dengan Filsafat Pendidikan
Filsafat yang dijadikan pandangan hidup oleh suatu masyarakat atau bangsa merupakan asas dan pedoman yang melandasi semua aspek hidup dan kehidupan bangsa, termasuk aspek pendidikan. Filsafat pendidikan yang dikembangkan harus berdasarkan filsafat yang dianut oleh suatu bangsa. Sedangkan pendidikan merupakan suatu cara atau mekanisme dalam menanamkan dan mewariskan nilai-nilai fislsafat itu sendiri.
Hubungan antara filsafat dan filsafat pendidikan menjadi sangat penting sekali, sebab ia menjadi dasar, arah, dan pedoman suatu sistem pendidikan. Filsafat pendidikan adalah aktivitas pemikiran teratur yang menjadikan filsafat sebagai medianya untuk menyusun proses pendidikan, menyelaraskan, mengharmoniskan, dan menerangkan nilai-nilai dan tujuan yang ingin dicapai. Jadi, terdapat kesatuan yang utuh antara filsafat, filsafat pendidikan, dan pengalaman manusia.
Bruner dan Burns menyatakan bahwa tujuan pendidikan adalah tujuan filsafat, yaitu untuk membimbing ke arah kebijaksanaan. Artinya, pendidikan adalah realisasi dari ide-ide filsafat, filsafat memberikan asas kepastian bagi peranan pendidikan sebagai wadah pembinaan manusia yang melahirkan ilmu pendidikan, lembaga pendidikan, dan aktivitas pendidikan. Jadi, filsafat pendidikan merupakan jiwa dan pedoman dasar pendidikan.

5.      Latar Belakang Munculnya Filsafat Pendidikan
Filsafat diakui sebagai induk ilmu pengetahuan (the mother of sciences) yang mampu menjawab segala pertanyaan dan permasalahan. Mulai dari masalah-masalah yang berhubungan dengan alam semesta hingga masalah manusia dengan segala problematika dan kehidupannya. Namun, karena banyak permasalahan yang tidak dapat dijawab lagi oleh filsafat, maka lahirlah cabang ilmu pengetahuan yang lain yang membantu menjawab segala macam permasalahan yang timbul.
Disiplin ilmu pengetahuan yang lahir itu ternyata memiliki objek dan sasaran yang berbeda-beda, yang terpisah satu sama lain. Suatu disiplin ilmu pengetahuan mengurus dan mengembangkan bidang garapan sendiri-sendiri dengan tidak memberikan hubungan dengan bidang lainnya. Akibatnya, terjadilah pemisahan antara berbagai macam bidang ilmu, hingga ilmu pengetahuan semakin kehilangan relevansinya dalam kehidupan masyarakat dan umat manusia dengan segala macam problematiknya.

6.      Perkembangan Pemikiran Filsafat Spritualisme Kuno
Titik berat filsafat adalah mencari hikmah. Hikmah itu dicari untuk mengetahui suatu keadaan sebenarnya, apa itu, dari mana, hendak ke mana, bagaimana. Dengan kata lain, filsafat adalah untuk mengetahui hakikat sesuatu tentang ilmu asal (epistemologi). Namun kalau pertanyaan itu diteruskan, akhirnya akan sampai dan berhenti pada sesuatu yang disebut agama. Baik filosof timur maupun barat, mereka memiliki pandangan yang sama bila sudah sampai pada pertanyaan, ”bilakah permulaan makhluk yang ada ini, dan apakah sesuatu yang pertama kali terjadi, dan apakah yang terakhir sekali bertahan dalam alam ini?”. Akan tetapi, mereka tetap berusaha untuk mencari hikmah yang sebenarnya supaya sampai kepada puncak pengetahuan yang tinggi, yaitu Tuhan Yang Maha Mengetahui dan Mahakuasa.
Kira-kira 1200-1000 SM sudah terdapat cerita-cerita lahirnya Zarathusthra, dari keluarga Sapitama, yang lahir di tepi sebuah sungai, yang ditolong oleh Ahura Mazda dalam masa pemerintahan raja-raja Akhmania (550-530 SM).
6.1 Timur Jauh
Yang termasuk wilayah timur jauh ialah China, India, dan Jepang. Di India, berkembang filsafat spiritualisme Hinduisme dan Budhisme. Sedangkan di Jepang berkembang Shintoisme. Begitu juga di China, berkembang Taoisme dan Konfusianisme.
6.2 Timur Tengah
Di timur tengah berkembang filsafat spritualisme Yahudi, Kristen, dan Islam (Agama Samawi)  
  
7.      Romawi dan Yunani : Antromorpisme
Antromorpisme merupakan suatu paham yang menyamakan sifat-sifat Tuhan (pencipta) dengan sifat-sifat yang ada pada manusia (yang diciptakan).
            Aliran Idealisme
            Aliran Materialisme
            Aliran Rasionalisme
8.      Pemikiran Filsafat Pendidikan Menurut Socrates (470-347 SM)
Socrates lahir di Athena merupakan putra seorang pemahat dan seorang bidan yang tidak terkenal, yaitu Sophonicus dan Phaenaree (470-399 SM). Prinsip dasar pendidikan  menurut Socrates adalah metode, dialektis. Metode digunakan Socrates sebagai dasar teknis pendidikan yang direncanakan untuk mendorong seorang belajar berpikir secara cermat, untuk menguji-coba diri sendiri dan untuk memperbaiki pengetahuannya. Seorang guru tidak boleh memaksakan gagasan atau pengetahuannya kepada seorang siswa, karena seorang siswa dituntut untuk bisa mengembangkan pemikirannya sendiri dengan berpikir secara kritis.
Dialektis menurut Socrates adalah dalam pengajaran dialog memegang peranan penting. Dialektis digunakan untuk jawaban atas pertanyaan moral yang diajarkan oleh para pendiri agama, cita-cita yang melekat pada ketuhanan, cinta kepada umat manusia, keadilan, keberanian, pengetahuan tentang kebaikan dan kejahatan, hormat terhadap kebenaran, sikap yang tak berlebih-lebihan, kebaikan hati, kerendahan hati, toleransi, kejujuran, dan segala kebajikan-kebajikan lama. Dengan berpikir, manusia akan mampu untuk menertibkan, meningkatkan dan mengubah dirinya. Sehingga orang sungguh-sungguh mengetahui dan mengerti apa yang benar dan dapat menyadari konsekuensi akan perbuatan yang benar.

9.      Pemikiran Filsafat Pendidikan Menurut Plato (427-347 SM)
Plato dilahirkan dalam keluarga aristokrat di Athena sekitar 427 SM. Ayahnya, Ariston adalah keturunan dari raja pertama Athena yang pernah berkuasa pada abad ke-7 SM. Sementara ibunya, Perictions, adalah keturunan keluarga Solon, seorang pembuat undang-undang, penyair, memimpin militer, dari kaum ningrat dan pendiri dari demokrasi Athena terkemuka. Plato adalah muridnya Socrates.
Menurut Plato, pendidikan itu sangat perlu, baik bagi dirinya sebagai individu maupun sebagai warga negara. Negara wajib memberikan pendidikan kepada setiap warga negaranya. Setiap peserta didik harus diberi kebebasan untuk mengikuti ilmu sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuan masing-masing sesuai jenjang usianya. Sehingga pendidikan itu sendiri akan memberikan dampak dan perubahan bagi kehidupan pribadi, bangsa, dan negara.
Idealnya dalam sebuah negara, pendidikan memperoleh tempat yang paling utama dan mendapatkan perhatian yang paling khusus. Bahkan, karena pendidikan adalah tugas dan panggilan yang sangat mulia, maka ia harus diselenggarakan oleh negara. Karena pendidikan itu sebenarnya merupakan suatu tindakan pembebasan dari belenggu ketidaktahuan dan ketidakbenaran. Dengan pendidikan, orang-orang akan mengetahui apa yang benar dan apa yang tidak benar. Dengan pendidikan pula, orang-orang akan akan mengenal apa yang baik dan apa yang jahat, apa yang patut dan apa yang tidak.
  
10.  Pemikiran Filsafat Pendidikan Menurut Aristoteles (367-345 SM)
Aristoteles adalah murid Plato. Dia adalah seorang cendikiawan dan intelektual terkemuka, mungkin sepanjang masa. Umat manusia merasa berutang budi pada Aristoteles oleh karena banyaknya kemajuan pemikirannya dalam filsafat dan ilmu-ilmu pengetahuan khususnya logika, metafisika, politik, etika, biologi, psikologi. Aristoteles lahir tahun 394 SM di Stagira sebuah kota kecil di semenanjung Chalcidice sebelah barat laut Egea. Ayahnya, Nichomachus, adalah dokter perawat Amyntas II, raja Macedonia. Ayahnyalah yang mengatur agar Aristoteles menerima pendidikan lengkap pada awal masa kanak-kanak dan mengajarinya ilmu kedokteran dan teknik pembedahan.  Ayah dan ibunya, Phaesta, mempunyai nenek moyang terkemuka.
Menurut Aristoteles, agar orang dapat hidup baik, maka ia harus mendapatkan pendidikan. Pendidikan bukanlah soal akal semata-mata, melainkan soal memberi bimbingan pada perasaan yang lebih tinggi, yaitu akal guna mengatur nafsu-nafsu. Akal sendiri tidak berdaya, sehingga ia memerlukan dukungan perasaan yang lebih tinggi agar diarahkan secara benar. Aristoteles mengemukakan bahwa pendidikan yang baik itu yang mempunyai tujuan untuk kebahagiaan.




11.  Aliran Filsafat Pendidikan Modern Ditinjau dari Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi
                                      Pengertian Ontologi
Ontologi berarti ilmu hakikat yang menyelidiki alam nyata dan bagaimana keadaan yang sebenarnya : Apakah hakikat di balik alam nyata ini. Ontologi menyelidiki hakikat dari segala sesuatu dari alam nyata yang sangat terbatas bagi pencaindra kita. Bagaimana realita yang ada ini, apakah materi saja, apakah wujud sesuatu ini bersifat tetap, kekal tanpa perubahan, apakah realita berbentuk satu unsur (monisme) atau dua unsur (dualisme) ataukah terdiri dari unsur yang banyak (pluralisme).
                                      Pengertian Epistemologi
Epistemologi adalah pengetahuan yang berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti apakah pengetahuan, cara manusia memperoleh dan menangkap pengetahuan dari jenis-jenis pengetahuan. Menurut epistemologi, setiap pengetahuan manusia merupakan hasil dari pemeriksaan dan penyelidikan benda hingga akhirnya diketahui manusia. Epistemologi membahas sumber, proses, syarat, batas, fasilitas, dan hakikat pengetahuan yang memberikan kepercayaan dan jaminan bagi guru bahwa ia memberikan kebenaran kepada murid-muridnya.
                                      Pengertian Aksiologi
Aksiologi adalah nilai-nilai yang berupa pertanyaan apakah yang baik atau bagus itu? Dalam definisi lain, aksiologi merupakan suatu  pendidikan yang menguji dan mengintegrasikan semua nilai tersebut dalam kehidupan manusia. Untuk selanjutnya, nilai-nilai tersebut ditanamkan dalam kepribadian anak.

12.  Aliran-aliran Filsafat Pendidikan Modern
            Aliran Progresivisme, mengakui dan berusaha mengembangkan asas progresivisme dalam semua realita kehidupan, agar manusia bisa survive menghadapi semua tantangan hidup.
            Asas belajar, filsafat progresivisme mempunyai konsep bahwa anak didik mempunyai akal dan kecerdasan. Akal dan kecerdasan merupakan potensi kelebihan manusia dibandingkan dengan makhluk lain.
            Pandangan kurikulum progresivisme, program pengajarannya dapat mempengaruhi anak belajar secara edukatif baik di lingkungan sekolah maupun di luar.
            Pandangan Progresivisme tentang budaya, kebudayaan sebagai hasil budi manusia dalam berbagai bentuk dan manifestasinya, sepanjang sejarah dikenal sebagai milik manusia yang tidak kaku. Ia selalu berkembang dan berubah. Filsafat progresivisme menganggap bahwa pendidikan telah mampu mengubah dan membina manusia untuk menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan kultural dan tantangan zaman, sekaligus menolong manusia menghadapi transisi zaman tradisional untuk memasuki zaman modern.
            Aliran Esensialisme, merupakan aliran pendidikan yang didasarkan pada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal beradaban umat manusia.
            Aliran Perenialisme, untuk mengembalikan keadaan krisis dengan memberikan jalan keluar, yaitu kembali pada kebudayaan masa lampau yang dianggap cukup ideal dan teruji ketangguhannya.
            Aliran Rekonstruksionisme, menyusun kembali tata susunan lama dengan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang bercorak modern.

13.  Teori Kebenaran Menurut Pandangan Filsafat dalam Bidang Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi
14.  Pandangan Filsafat tentang Hakikat Manusia
15.  Sistem Nilai dalam Kehidupan Manusia
16.  Pandangan Filsafat tentang Pendidikan
17.  Filsafat Pendidikan Pancasila
18.  Pancasila sebagai Filsafat Hidup Bangsa
19.  Pancasila sebagai Filsafat Pendidikan Nasional
20.  Hubungan Pancasila dengan Sistem Pendidikan Ditinjau dari Filsafat Pendidikan
21.  Filsafat Pendidikan Pancasila dalam Tinjauan Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi
22.  Filsafat Pendidikan dan Kepribadian
23.  Filsafat Pendidikan dan Sumber Daya Manusia

Pustaka
Jalaludin dan Idi Abdullah, 2009. Filsafat Pendidikan. Yogyakarta: Ar ruzz Media.

Ibrahim, Abdul Syukur. 2004. Teori Ilmu Pengetahuan. Malang: PPS UM 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar