FILSAFAT PENDIDIKAN
Disampaikan
oleh:
Dr. H. Mohammad
Siddik, Drs., M.Pd
PGSD FKIP
Unmul
1. Pengertian
Filsafat
Kata filsafat berasal
dari bahasa Yunani. Terdiri dari kata philos
yang berarti cinta, senang, dan suka. Kata sophia
berarti pengetahuan, hikmah, dan kebijaksanaan (Ali, 1986:7). Shadily (1984:9)
mengatakan bahwa filsafat menurut asal katanya adalah cinta akan kebenaran.
Pengertian filsafat adalah cinta pada ilmu pengetahuan atau kebenaran, suka
kepada hikmah dan kebijaksanaan. Jadi, orang yang berfilsafat adalah orang yang
mencintai akan kebenaran, berilmu pengetahuan, ahli hikmah dan kebijaksanaan.
Harold Titus mengemukakan pengertian filsafat sebagai berikut.
Filsafat
adalah sekumpulan sikap dan kepercayaan terhadap kehidupan dan alam yang biasanya
diterima secara kritis;
Filsafat
ialah suatu proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan dan sikap yang
sangat kita junjung tinggi;
Filsafat
adalah usaha untuk mendapatkan gambaran keseluruhan;
Filsafat
ialah analisis logis dari bahasan dan penjelasan tentang arti konsep;
Filsafat
ialah sekumpulan problema yang langsung mendapat perhatian manusia dan
dicarikan jawabannya oleh ahli filsafat pendidikan.
2.
Pengertian Filsafat Pendidikan
Menurut John Dewey, filsafat pendidikan merupakan
pembentukan kemampuan dasar yang fundamental, baik yang menyangkut daya pikir
(intelektual) maupun daya perasaan (emosional), menuju tabiat manusia. Dalam
hubungan ini, pendidikan adalah usaha mengubah tingkah laku individu dalam
kehidupan pribadinya sebagai bagian dari kehidupan masyarakat dan kehidupan
alam sekitarnya. Dalam hubungan antara filsafat umum dan filsafat pendidikan,
filsafat pendidikan memiliki beberapa batasan sebagai berikut.
Filsafat
pendidikan merupakan pelaksana pandangan filsafat dan kaidah filsafat dalam
bidang pengalaman kemanusiaan yang disebut pendidikan. Filsafat pendidikan
berusaha untuk menjelaskan dan menerangkan supaya pengalaman bermanusia ini
sesuai dengan kehidupan baru.
Filsafat
pendidikan sebuah kajian dalam mengembangkan pandangan terhadap proses
pendidikan dalam upaya memperbaiki keadaan pendidikan.
Filsafat
pendidikan memiliki prinsip-prinsip, kepercayaan, konsep, andaian yang terpadu
satu sama lainnya.
3. Ruang
Lingkup Bahasan Filsafat dan Filsafat Pendidikan
Filsafat adalah studi secara kritis mengenai
masalah-masalah yang timbul dalam kehidupan manusia dan merupakan alat dalam
mencari jalan keluar yang terbaik agar dapat mengatasi permasalahan hidup dan
kehidupan yang dihadapi. Artinya, filsafat bertujuan memberikan pengertian yang
dapat diterima oleh manusia mengenai konsep-konsep hidup secara ideal dan
mendasar bagi manusia agar mendapatkan kebahagiaan dan kesejahteraan. Dengan
demikian, ruang lingkup filsafat adalah semua lapangan pemikiran manusia yang
komprehensif. Segala sesuatu yang mungkin ada dan benar-benar ada (nyata), baik
material konkret maupun nonmaterial (abstrak). Jadi, objek filsafat itu tidak
terbatas (Noorsyam, 1988: 22). Secara makro, yang menjadi objek pemikiran
filsafat , yaitu permasalahan kehidupan manusia, alam semesta, dan alam
sekitarnya, juga merupakan objek pemikiran filsafat pendidikan. Secara mikro,
ruang lingkup filsafat pendidikan, meliputi:
Merumuskan
secara tegas sifat hakikat pendidikan;
Merumuskan
sifat hakikat manusia, sebagai subjek dan objek pendidikan;
Merumuskan
secara tegas hubungan antara filsafat, filsafat pendidikan, agama dan
kebudayaan;
Merumuskan
hubungan antara filsafat, filsafat pendidikan, dan teori pendidikan;
Merumuskan
hubungan antara filsafat negara (ideologi), filsafat pendidikan dan politik
pendidikan (sistem pendidikan);
Merumuskan
sistem nilai-norma atau isi moral pendidikan yang merupakan tujuan pendidikan
(Tim Dosen IKIP Malang:65)
Menurut Will Durant ruang lingkup studi filsafat itu ada
lima, yaitu : logika, estetika, etika, politik, dan metafisika.
4. Hubungan
Filsafat dengan Filsafat Pendidikan
Filsafat yang dijadikan pandangan hidup oleh suatu
masyarakat atau bangsa merupakan asas dan pedoman yang melandasi semua aspek
hidup dan kehidupan bangsa, termasuk aspek pendidikan. Filsafat pendidikan yang
dikembangkan harus berdasarkan filsafat yang dianut oleh suatu bangsa.
Sedangkan pendidikan merupakan suatu cara atau mekanisme dalam menanamkan dan
mewariskan nilai-nilai fislsafat itu sendiri.
Hubungan antara filsafat dan filsafat pendidikan menjadi
sangat penting sekali, sebab ia menjadi dasar, arah, dan pedoman suatu sistem
pendidikan. Filsafat pendidikan adalah aktivitas pemikiran teratur yang
menjadikan filsafat sebagai medianya untuk menyusun proses pendidikan,
menyelaraskan, mengharmoniskan, dan menerangkan nilai-nilai dan tujuan yang
ingin dicapai. Jadi, terdapat kesatuan yang utuh antara filsafat, filsafat
pendidikan, dan pengalaman manusia.
Bruner dan Burns menyatakan bahwa tujuan pendidikan
adalah tujuan filsafat, yaitu untuk membimbing ke arah kebijaksanaan. Artinya,
pendidikan adalah realisasi dari ide-ide filsafat, filsafat memberikan asas
kepastian bagi peranan pendidikan sebagai wadah pembinaan manusia yang
melahirkan ilmu pendidikan, lembaga pendidikan, dan aktivitas pendidikan. Jadi,
filsafat pendidikan merupakan jiwa dan pedoman dasar pendidikan.
5. Latar
Belakang Munculnya Filsafat Pendidikan
Filsafat diakui sebagai induk ilmu pengetahuan (the mother of sciences) yang mampu
menjawab segala pertanyaan dan permasalahan. Mulai dari masalah-masalah yang
berhubungan dengan alam semesta hingga masalah manusia dengan segala
problematika dan kehidupannya. Namun, karena banyak permasalahan yang tidak
dapat dijawab lagi oleh filsafat, maka lahirlah cabang ilmu pengetahuan yang lain
yang membantu menjawab segala macam permasalahan yang timbul.
Disiplin ilmu pengetahuan yang lahir itu ternyata
memiliki objek dan sasaran yang berbeda-beda, yang terpisah satu sama lain.
Suatu disiplin ilmu pengetahuan mengurus dan mengembangkan bidang garapan
sendiri-sendiri dengan tidak memberikan hubungan dengan bidang lainnya.
Akibatnya, terjadilah pemisahan antara berbagai macam bidang ilmu, hingga ilmu
pengetahuan semakin kehilangan relevansinya dalam kehidupan masyarakat dan umat
manusia dengan segala macam problematiknya.
6. Perkembangan
Pemikiran Filsafat Spritualisme Kuno
Titik berat filsafat adalah mencari hikmah. Hikmah itu
dicari untuk mengetahui suatu keadaan sebenarnya, apa itu, dari mana, hendak ke
mana, bagaimana. Dengan kata lain, filsafat adalah untuk mengetahui hakikat
sesuatu tentang ilmu asal (epistemologi). Namun kalau pertanyaan itu
diteruskan, akhirnya akan sampai dan berhenti pada sesuatu yang disebut agama. Baik
filosof timur maupun barat, mereka memiliki pandangan yang sama bila sudah
sampai pada pertanyaan, ”bilakah permulaan makhluk yang ada ini, dan apakah
sesuatu yang pertama kali terjadi, dan apakah yang terakhir sekali bertahan
dalam alam ini?”. Akan tetapi, mereka tetap berusaha untuk mencari hikmah yang
sebenarnya supaya sampai kepada puncak pengetahuan yang tinggi, yaitu Tuhan
Yang Maha Mengetahui dan Mahakuasa.
Kira-kira 1200-1000 SM sudah terdapat cerita-cerita
lahirnya Zarathusthra, dari keluarga Sapitama, yang lahir di tepi sebuah
sungai, yang ditolong oleh Ahura Mazda dalam masa pemerintahan raja-raja
Akhmania (550-530 SM).
6.1
Timur Jauh
Yang termasuk wilayah timur jauh ialah China, India, dan
Jepang. Di India, berkembang filsafat spiritualisme Hinduisme dan Budhisme.
Sedangkan di Jepang berkembang Shintoisme. Begitu juga di China, berkembang
Taoisme dan Konfusianisme.
6.2
Timur Tengah
Di timur tengah berkembang filsafat spritualisme Yahudi, Kristen,
dan Islam (Agama Samawi)
7. Romawi
dan Yunani : Antromorpisme
Antromorpisme merupakan suatu paham yang menyamakan sifat-sifat
Tuhan (pencipta) dengan sifat-sifat yang ada pada manusia (yang diciptakan).
Aliran
Idealisme
Aliran
Materialisme
Aliran
Rasionalisme
8. Pemikiran
Filsafat Pendidikan Menurut Socrates (470-347 SM)
Socrates lahir di Athena merupakan putra seorang pemahat
dan seorang bidan yang tidak terkenal, yaitu Sophonicus dan Phaenaree (470-399
SM). Prinsip dasar pendidikan menurut
Socrates adalah metode, dialektis. Metode digunakan Socrates sebagai dasar
teknis pendidikan yang direncanakan untuk mendorong seorang belajar berpikir
secara cermat, untuk menguji-coba diri sendiri dan untuk memperbaiki
pengetahuannya. Seorang guru tidak boleh memaksakan gagasan atau pengetahuannya
kepada seorang siswa, karena seorang siswa dituntut untuk bisa mengembangkan
pemikirannya sendiri dengan berpikir secara kritis.
Dialektis menurut Socrates adalah dalam pengajaran dialog
memegang peranan penting. Dialektis digunakan untuk jawaban atas pertanyaan
moral yang diajarkan oleh para pendiri agama, cita-cita yang melekat pada
ketuhanan, cinta kepada umat manusia, keadilan, keberanian, pengetahuan tentang
kebaikan dan kejahatan, hormat terhadap kebenaran, sikap yang tak
berlebih-lebihan, kebaikan hati, kerendahan hati, toleransi, kejujuran, dan
segala kebajikan-kebajikan lama. Dengan berpikir, manusia akan mampu untuk
menertibkan, meningkatkan dan mengubah dirinya. Sehingga orang sungguh-sungguh
mengetahui dan mengerti apa yang benar dan dapat menyadari konsekuensi akan
perbuatan yang benar.
9. Pemikiran
Filsafat Pendidikan Menurut Plato (427-347 SM)
Plato dilahirkan dalam keluarga aristokrat di Athena
sekitar 427 SM. Ayahnya, Ariston adalah keturunan dari raja pertama Athena yang
pernah berkuasa pada abad ke-7 SM. Sementara ibunya, Perictions, adalah
keturunan keluarga Solon, seorang pembuat undang-undang, penyair, memimpin
militer, dari kaum ningrat dan pendiri dari demokrasi Athena terkemuka. Plato
adalah muridnya Socrates.
Menurut Plato, pendidikan itu sangat perlu, baik bagi
dirinya sebagai individu maupun sebagai warga negara. Negara wajib memberikan
pendidikan kepada setiap warga negaranya. Setiap peserta didik harus diberi
kebebasan untuk mengikuti ilmu sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuan
masing-masing sesuai jenjang usianya. Sehingga pendidikan itu sendiri akan
memberikan dampak dan perubahan bagi kehidupan pribadi, bangsa, dan negara.
Idealnya dalam sebuah negara, pendidikan memperoleh
tempat yang paling utama dan mendapatkan perhatian yang paling khusus. Bahkan,
karena pendidikan adalah tugas dan panggilan yang sangat mulia, maka ia harus
diselenggarakan oleh negara. Karena pendidikan itu sebenarnya merupakan suatu
tindakan pembebasan dari belenggu ketidaktahuan dan ketidakbenaran. Dengan
pendidikan, orang-orang akan mengetahui apa yang benar dan apa yang tidak
benar. Dengan pendidikan pula, orang-orang akan akan mengenal apa yang baik dan
apa yang jahat, apa yang patut dan apa yang tidak.
10. Pemikiran
Filsafat Pendidikan Menurut Aristoteles (367-345 SM)
Aristoteles adalah murid Plato. Dia adalah seorang
cendikiawan dan intelektual terkemuka, mungkin sepanjang masa. Umat manusia
merasa berutang budi pada Aristoteles oleh karena banyaknya kemajuan
pemikirannya dalam filsafat dan ilmu-ilmu pengetahuan khususnya logika,
metafisika, politik, etika, biologi, psikologi. Aristoteles lahir tahun 394 SM
di Stagira sebuah kota kecil di semenanjung Chalcidice sebelah barat laut Egea.
Ayahnya, Nichomachus, adalah dokter perawat Amyntas II, raja Macedonia.
Ayahnyalah yang mengatur agar Aristoteles menerima pendidikan lengkap pada awal
masa kanak-kanak dan mengajarinya ilmu kedokteran dan teknik pembedahan. Ayah dan ibunya, Phaesta, mempunyai nenek
moyang terkemuka.
Menurut Aristoteles, agar orang dapat hidup baik, maka ia
harus mendapatkan pendidikan. Pendidikan bukanlah soal akal semata-mata,
melainkan soal memberi bimbingan pada perasaan yang lebih tinggi, yaitu akal
guna mengatur nafsu-nafsu. Akal sendiri tidak berdaya, sehingga ia memerlukan
dukungan perasaan yang lebih tinggi agar diarahkan secara benar. Aristoteles
mengemukakan bahwa pendidikan yang baik itu yang mempunyai tujuan untuk
kebahagiaan.
11. Aliran
Filsafat Pendidikan Modern Ditinjau dari Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi
Pengertian Ontologi
Ontologi berarti ilmu hakikat yang menyelidiki alam nyata
dan bagaimana keadaan yang sebenarnya : Apakah hakikat di balik alam nyata ini.
Ontologi menyelidiki hakikat dari segala sesuatu dari alam nyata yang sangat
terbatas bagi pencaindra kita. Bagaimana realita yang ada ini, apakah materi
saja, apakah wujud sesuatu ini bersifat tetap, kekal tanpa perubahan, apakah
realita berbentuk satu unsur (monisme) atau dua unsur (dualisme) ataukah
terdiri dari unsur yang banyak (pluralisme).
Pengertian Epistemologi
Epistemologi adalah pengetahuan yang berusaha menjawab
pertanyaan-pertanyaan seperti apakah pengetahuan, cara manusia memperoleh dan
menangkap pengetahuan dari jenis-jenis pengetahuan. Menurut epistemologi,
setiap pengetahuan manusia merupakan hasil dari pemeriksaan dan penyelidikan benda
hingga akhirnya diketahui manusia. Epistemologi membahas sumber, proses,
syarat, batas, fasilitas, dan hakikat pengetahuan yang memberikan kepercayaan
dan jaminan bagi guru bahwa ia memberikan kebenaran kepada murid-muridnya.
Pengertian Aksiologi
Aksiologi adalah nilai-nilai yang berupa pertanyaan apakah
yang baik atau bagus itu? Dalam definisi lain, aksiologi merupakan suatu pendidikan yang menguji dan mengintegrasikan
semua nilai tersebut dalam kehidupan manusia. Untuk selanjutnya, nilai-nilai
tersebut ditanamkan dalam kepribadian anak.
12. Aliran-aliran
Filsafat Pendidikan Modern
Aliran Progresivisme, mengakui dan berusaha mengembangkan asas progresivisme
dalam semua realita kehidupan, agar manusia bisa survive menghadapi semua
tantangan hidup.
Asas
belajar, filsafat progresivisme mempunyai konsep bahwa anak didik mempunyai
akal dan kecerdasan. Akal dan kecerdasan merupakan potensi kelebihan manusia
dibandingkan dengan makhluk lain.
Pandangan
kurikulum progresivisme, program pengajarannya dapat mempengaruhi anak belajar
secara edukatif baik di lingkungan sekolah maupun di luar.
Pandangan
Progresivisme tentang budaya, kebudayaan sebagai hasil budi manusia dalam
berbagai bentuk dan manifestasinya, sepanjang sejarah dikenal sebagai milik
manusia yang tidak kaku. Ia selalu berkembang dan berubah. Filsafat progresivisme
menganggap bahwa pendidikan telah mampu mengubah dan membina manusia untuk
menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan kultural dan tantangan zaman,
sekaligus menolong manusia menghadapi transisi zaman tradisional untuk memasuki
zaman modern.
Aliran Esensialisme, merupakan aliran pendidikan yang didasarkan pada
nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal beradaban umat manusia.
Aliran Perenialisme, untuk mengembalikan keadaan krisis dengan memberikan
jalan keluar, yaitu kembali pada kebudayaan masa lampau yang dianggap cukup
ideal dan teruji ketangguhannya.
Aliran Rekonstruksionisme, menyusun kembali tata susunan lama dengan membangun tata
susunan hidup kebudayaan yang bercorak modern.
13.
Teori
Kebenaran Menurut Pandangan Filsafat dalam Bidang Ontologi, Epistemologi, dan
Aksiologi
14.
Pandangan
Filsafat tentang Hakikat Manusia
15.
Sistem
Nilai dalam Kehidupan Manusia
16.
Pandangan
Filsafat tentang Pendidikan
17.
Filsafat
Pendidikan Pancasila
18.
Pancasila
sebagai Filsafat Hidup Bangsa
19.
Pancasila
sebagai Filsafat Pendidikan Nasional
20.
Hubungan
Pancasila dengan Sistem Pendidikan Ditinjau dari Filsafat Pendidikan
21.
Filsafat
Pendidikan Pancasila dalam Tinjauan Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi
22.
Filsafat
Pendidikan dan Kepribadian
23.
Filsafat
Pendidikan dan Sumber Daya Manusia
Pustaka
Jalaludin dan Idi Abdullah, 2009. Filsafat
Pendidikan. Yogyakarta: Ar ruzz Media.
Ibrahim, Abdul Syukur. 2004. Teori
Ilmu Pengetahuan. Malang: PPS UM
Tidak ada komentar:
Posting Komentar