PELATIHAN PEMANFAATAN
LINGKUNGAN DALAM PENGEMBANGAN KEMAMPUAN SOSIAL EMOSI ANAK TAMAN KANAK-KANAK
Oleh: AmirSyamsudin,Wuri Wuryandani,Ika Budi
Maryatun,dan Eka Sapti C.
FIP UNY
Abstrak
Kegiatan pengabdian
masyarakat ini bertujuan untuk a) Meningkatkan
pemahaman guru tentang perkembangan aspek sosial emosi anak TK. b) Meningkatkan pemahaman guru TK
tentang pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar dalam pengembangan aspek
sosial emosi anak TK. c) Meningkatkan
pemahaman guru tentang menciptakan setting
kelasyang mendukung pengembangan aspek sosial emosi anak TK, dan d) Meningkatkan ketrampilan guru TK
dalam menyusun rencana satuan kegiatan harian yang mendukung aspek pengembangan
sosial emosi anak TK.
Kegitan ini dilakukan
dengan berberapa tahap,yaitu tahap pertama peserta diberi materi teori yang
berkaitan dengan perkembangan aspek sosial anak dan lingkungan sebagai sumber
belajar. Kemudian tahap kedua peserta diminta untuk melakukan praktik
pengemasan pembelajaran dalam bentuk skenario pembelajaran. Setelah itu peserta
diminta untuk mempresentasikan dan mendiskusikan hasil kerja kelompoknya
tersebut.
Berdasarkan hasil yang
diperoleh dalam pelaksanaan pengabdian masyarakat ini semua peserta dapat
mengaplikasikan praktek pengemasan pembelajaran untuk mengembangkan aspek
sosial emosi anal. Hal ini ditandai dengan keberhasilan peserta yang semuanya
berada pada skor rentang 75-90. Rentang skor tersebut berada dalam konversi
nilai baik dan sangat baik.
PENDAHULUAN
1.
Analisis Situasi
Pendidikan secara formal dilakukan oleh suatu lembaga yang disebut dengan
sekolah. Dalam proses pendidikan di sekolah melibatkan banyak komponen
diantaranya guru, siswa, bahan ajar, sarana
dan prasarana, sumber belajar, media pembelajaran, dan sebagainya. Masing-masing
faktor yang terlibat dalam proses pembelajaran itu mempunyai fungsi yang
berbeda satu dengan yang lain, akan tetapi saling berhubungan dan saling
mendukung.
Menurut Pasal 3 Undang-Undang
Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) Tahun 2003, tujuan Pendidikan Nasional
adalah mengembangkan potensi peserta didik menjadi manusia yang beriman dan
bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab.
Melalui pendidikan
nasional diharapkan dapat ditingkatkan kemampuan, mutu kehidupan, dan martabat
manusia Indonesia. Pendidikan nasional diharapkan menghasilkan manusia terdidik
yang beriman, berbudi pekerti luhur, berpengetahuan, berketerampilan, dan
memiliki rasa tanggungjawab Untuk itu dalam pelaksanaan pendidikan di sekolah
hendaknya guru tidak hanya berorientasi pada aspek kognitif saja, tetapi juga
aspek afektif, dan psikomotor.
Salah satu
halpenting yang harus dikembangkan guru adalah aspek sosial emosional. Dengan
berbekal kemampuan sosio emosional yang baik diharapkan kelak dalam
bersosialisasi dengan masyarakat di lingkungannya, anak dengan mudah dapat
menyesuaikan diri, sehingga dengan mudah anak dapat doterima oleh
lingkungannya. Pengembangan aspek sosio emosionalini harus dimulai sejak sedini
mungkin. Hal ini dapat dimulai melalui lingkungan pendidikan di luar keluarga
sejakanak beradadalamlingkungan sekolah Taman Kanak-Kanak (TK).
Dalam pengembangan
aspek sosio emosional anak TK hendaknya guru tidak hanya melakukan pembelajaran
di dalam kelas, justru sebaliknya lebih sering diadakan pembelajaran di luar
kelas agar anak dapat melihatdan memperoleh pengalaman langsung tentang hal-hal
yang berkaitan dengan kehidupan sosial mereka. Pembelajaran di luar kelas ini
dapat dilakukan dengan cara memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar
peserta didik.
Sumber
pembelajaran dari lingkungan yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan aspek
sosial emosi anak TK di Kecamatan Mantrijeron cukup banyak. Di antaranya adalah
pasar, kantor-kantor pemerintahan, lingkungan budaya, dan lingkungan alam.
Dengan berbekal sumber belajar berupa lingkungan tersebut diharapkan guru TK
mampu mengemas pembelajaran yang mendukung pengembangan aspek sosial emosi anak
dengan memanfaatkan lingkungan yang ada.
2.
Identifikasi dan Perumusan Masalah
a.
Pengetahuan
dan kemampuan guru dalam memenfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar
anak TK sangat penting
b.
Pelatihan
pemanfaatan lingkungan untuk sumber belajara dalam pengembangan aspek sosial
emosi anak dapat meningkatkan wawasan guru TK.
c.
Pelatihan
ini meliputi aspek perkembangan sosial emosi anak, pemanfaatan
lingkungan sebagai sumber belajar untuk pengembangan aspek sosial emosi anak
TK, pengemasan rencana satuan kegiatan harian untuk mengembangkan aspek sosial
emosi anak TK dengan memanfaatkan lingkungan, menciptakan setting kelas yang mendukung pengembangan aspek sosial emosi anak
TK.
3. Tujuan Kegiatan
a.
Meningkatkan pemahaman guru tentang perkembangan
aspek sosial emosi anak TK.
b.
Meningkatkan
pemahaman guru TK tentang pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar
dalam pengembangan aspek sosial emosi anak TK.
c.
Meningkatkan pemahaman guru tentang menciptakan setting kelasyang mendukung pengembangan
aspek sosial emosi anak TK.
d.
Meningkatkan
ketrampilan guru TK dalam menyusun rencana satuan kegiatan harian yang
mendukung aspek pengembangan sosial emosi anak TK.
4.
Manfaat Kegiatan
a.
Pelatihan
akan meningkatkan wawasan
pemahaman guru TK tentang
pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar dalam pengembangan aspek sosial
emosi anak TK.
b.
Pelatihan ini diharapkan mampu meningkatkan ketrampilan guru TK dalam
melakukan pembelajaran yang mendukung aspek pengembangan sosial emosi anak TK.
5.
Landasan
Teori/kajian Pustaka
a.
Aspek
Sosio Emosiona
Salah satu aspek
perkembangan yang perlu dikembangakan untuk anak TK analah aspek sosial emosi.
Aspek ini perlu dikembangakan demi membekali anak untuk kehidupannya di masa
yang akan datang. Diharapkan dengan berbekal kemapuan ini anak akan mudah
bersosialisasi dengan masyarakat sekitarnya.
Untuk mengembangkan aspek sosio emosi
anak, ada tiga hal yang penting dilakukan guru, yaitu 1) mamberi kesempatan
kepada anak untuk berkembang secara positif. 2) menciptakan proses pendidikan
dan pembelajaran yang memberikan wahana untuk perkembangan sosial emosi secara
positif. 3) menyediakan sarana dan prasarana yang dibutuhkan (Martini Jamaris,
2006:42).
Peran guru sebgai fasilitator dalam
pendidikan anak usia dini harus mampu member kemudahan kepada anak untuk dapat
mempelajari berbagai hal yang terdapat dalam lingkungannnya. Setiap anak memiliki rasa ingin tahu dan
sikap antusias yang kuat terhadap segala sesuatu serta memiliki sikap
berpetualang serta minat yang kuat untuk mengobservasi lingkungan. Pengenalan
terhadap lingkungan di sekitarnya merupakan pengalaman yang positif untuk
mengembangan potensi yang dimiliki anak usia dini (www.ilmuwanmuda.wordpress.com).
Dalam pengembangan aspek sosial
lingkungan secara alami mendorong anak untuk berinteraksi dengan orang-orang
dewasa. Pada saat anak mengamati objek-objek tertentu yang ada di lingkungannya
ia pasti akan menceritakan kepada orang lain. Dalam hal ini anak akan memcoba
berbagai cara agar mampu menjalin hubungan yang dekat dan harmonis dengan orang
lain yang hendak dituju untuk menerima ceritanya. (www.ilmuwanmuda.wordpress.com).
Dalam pengembangan aspek emosi lingkungan
pada umumnya memberikan tantangan untuk dilalui oleh anak-anak. Pemanfaatannya
akan memungkinkan anak untuk mengembangkan rasa percaya diri yang positif.
Misalnya bila anak diajak ke sebuah taman yang terdapat beberapa pohon yang
memungkinkan untuk mereka panjat. Dengan memanjat pohon tersebut anak
mengembangkan aspek keberaniannya sebagai bagian dari pengembangan aspek
emosinya. Rasa percaya diri yang dimiliki oleh anak terhadap dirinya sendiri
dan orang lain dikembangkan melalui pengalaman hidup yang nyata. Lingkungan
sendiri menyediakan fasilitas bagi anak untuk mendapatkan pengalaman hidup yang
nyata. (www.ilmuwanmuda.wordpress.com).
Alam merupakan sarana bermain anak yang
mampu meningkatkan daya eksplorasi anak. Ada beberapa manfaat yang dapat
diambil dari lingkungan alam dalam pembelajaran sosial emosi anak, diantaranya
1) menanamkan nilai. Ketika menikmati alam, orang tua bisa memasukkan
nilai-nilai yang dianggap penting. Misalnya perlunya menjaga kebersihan
lingkungan. Tidak membunuh hewan, merawattanaman dan sebagainya. 2) member
kepuasan. Kepuasan yang didapat anak dengan bermain di alam bebas tidak akan
sama dengan saat anak bermain di taman bermain, di rumah, atau di mal. 3) lebih
percaya diri. Anak-anak yang terbiasa bermain bermain di alam akan tumbuh lebih
percaya diri. ,isalnya saat melihat katak di kubangan air, ia tidak merasa
takut. ( Maimunah Hasan, 2009:281-282).
b.
Pengertian
Sumber belajar
Sumber belajar merupakan sumber
yang dapat dipakai oleh siswa baik sendiri-sendiri atau bersama-sama dengan
siswa lainnya untuk memudahkan belajar (Hamalik dalam Trimo, 2008). Sementara
menurut Mudhofir dalam trimo, 2008 menyatakan bahwa sumber belajar adalah
berbagai informasi, data-data ilmu pengetahuan, gagasan-gaagasan manusia baik
dalam bentuk bahan-bahan tercetak (misalnya buku-buku, brosur, pamflet,
majalah, dan lain-lain) maupun dalam bentuk non cetak (misalnya film,
filmstrip, kaset, videocassete dan lain-lain).
Sementara
itu Suharjo, 2006:107, menytakan bahwa sumber belajar adalah segala sumber
(data, manusia, dan benda) yang dapat digunakan oleh siswa baik secara sendiri maupun bersama-sama, biasanya
dalam suatu cara yang informal untuk membantu belajar.
Dari pendapat di atas jelaslah
bahwa sumber belajar tidaklah harus berbentuk bahan cetak atau buku saja tetapi
bisa pula dalam bentuk yang lain. Yang
jelas bahwa sesuatu dapat dikatakan sebagai sumber belajar jika keberadaannya
dapat dimanfaatkan baik oleh guru maupun siswa untuk mempermudah jalannya
proses pembelajaran.
Macam-macam Sumber
Belajar
Ada dua macam sumber belajar,
yaitu sumber belajar yang memang dikembangkan dan disiapkan yang disebut dngan resources by design, dan sumber belajar
yang tidak direncanakan secara khusus untuk pengajaran, tetapi dapat digunakan
untuk belajar yang disebut dengan resources
by utilization. Sumber-sumber belajar itu meliputi:
1. Message (Pesan),
yaitu informasi yang disampaikan melalui komponen lain berupa ide, fakta-fakta,
pengetian, data, dan sebagainya.
2. Material, adalah bahan, media atau
software yang biasanya menyimpan
pesan yang ditampilkan dengan menggunakan alat (hardware) atau dapat menampilkan dirinya sendiri, misalnya
transparansi OHP, slide, film, filmstrip, buku, jurnaldan sebagainya.
3. Alat (device) atau sering disebut hardware,
digunakan untuk menampilkan pesan yang terdapat pada bahan (materials); misalnya proyektor slide,
proyektor filmstrip, proyektor film, OHP, alat perlengkapan televisi, tape
recorder (audio/video) dan sebagainya.
4. Teknik, adalah cara-cara yang bisa
dilakukan dalam belajar mengajar atau penggunaan alat-alat, bahan, setting, dan orang untuk menyampaikan
pesan; misalnya pengajaran berprogram, simulasi, permainan, metode penemuan,
karyawisata, team teaching, pengajaran
perseorangan, kerja kelompok, belajar mandiri, ceramah, diskusi.
5. Setting, adalah
lingkungan tempat pesan diterima. Lingkungan sebagai sumber belajar dapat
berupa:
a. Lingkungan alam, seperti: gunung
api, pantai, sungai, daratan, dan sebagainya.
b. Lingkungan sosial, misalnya;
keluarga, rukun tetangga, desa, kelurahan, kota, pasar dan sebagainya.
c. Lingkungan budaya, misalnya:
candi, adat istiadat, dan sebagainya.
6. Manusia, yakni manusia yang
bertindak sebagai pembawa/penyampai
pesan; misalnya guru, siswa, aktor, dokter, dan sebagainya (Suharjo,
2006:107-108).
Sumber belajar yang dapat
dimanfaatkan dalam proses pembelajaran ada tiga, yaitu sumber belajar yang
dirancang (by design resources), dan sumber
belajar yang dimanfaatkan (by utility
resources). Dari keduanya yang jumlahnya lebig besar adalah sumber belajar
yang dimanfaatkan (by utility resources).
Masuk ke dalam jenis sumber belajar ini adalah lingkungan.
(www.aristorahadi.wordpress).
Jenis-jenis lingkungan yang dapat
dimanfaatkan sebagai sumber belajar anak usia dini antara lain 1) lingkungan
alam, seperti air, hutan, tanah, batu-batuan,tumbuh-tumbuhan dan hewan, sungai,
iklim, suhu dan sebagainya. 2) lingkungan sosial, seperti adat istiadat,
organisasi sosial masyarakat, kehidupan beragama masyarakat, kebudayaan dan
lain-lain. 3) lingkungan budaya.
METODE KEGIATAN PPM
Kegiatan PPMini
dilaksanakan dengan sasaran yang
dituju dalam pelatihan ini adalah anggota
Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak (IGTK) Kecamatan Mantrijeron, Kota Yogyakarta,
Daerah Istimewa Yogyakarta yang berjumlah 36 orang. Kediatan dilakukan dengan
1) ceramah,2) tanya jawab, 3) diskuysi, dan 4) praktek pengemasan pembelajaran
dalam bentuk scenario pembelajaran.
Kegiatan
PPM ini didukung oleh beberapa pihak, yiatu:
a.
Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Negeri Yogyakarta. Beberapa
dosen terkait akan dilibatkan sebagai narasumber, trainer, atau instruktur dalam pelatihan ini.
b.
Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak (IGTK) Kecamatan
Mantrijeron Kota Yogyakarta Daerah Universitas Negeri Yogyakarta. IGTK dilibatkan dalam bentuk delegasi peserta
untuk mengikuti kegiatan ini.
c.
Mahasiswa Program Studi PAUD FIP UNY dilibatkan
dalam bentuk partisipasi dalam membantu pelaksanaan kegiatan
HASIL DAN PEMBAHASAN
Program Pelatihan
Pemanfaatan Lingkungan Dalam Pengembangan Kemampuan Sosial Emosi Anak Taman
Kanak-Kanak ini dilaksanakan dengan
melibatkan guru-guru TK se-Kecamatan Mantrijeron yang berjumlah 36 orang guru.
Kegiatan pelatihan dilaksanakan selama 34 jam yang terdiri dari teori dan
praktek. Adapun deskripsi pelaksanaan kegiatan pelatihan sebagai berikut:
1. Pelaksanaan Hari Pertama (Sabtu, 17 Juli
2010)
Pelaksanaan kegiatan
pada hari pertama ini dimulai pada pukul 11.00-14.00 WIB. Peserta pelatihan
pada hari pertama ini diikuti sebanyak 36 orang guru TK. Materi pelatihan pada
hari ini terdiri dari:
a. Penjelasan pelatihan selama kurang lebih 1
jam.
b. Materi pelatihan yang berisi tentang
“perkembangan sosio emosional anak TK”. Materi pelatihan ini dofasilitatori
oleh bapak Amir Syamsudin, M.Ag. pemberian materi ini bertujuan agar guru-guru
TK memahami perkembangan sosio emosional anak TK. Adapun metode pelatihan yang
digunakan adalan ceramah, diskusi, dan tanya jawab. Pada hari pertama ini
peserta secara aktif berperan serta mengikuti pelatihan. Hal ini ditunjukkan
dengan antusiasme peserta dalam menanggapi materi yang berkaitan dengan
perkembangan sosio emosional anak TK.
2. Pelaksanaan Hari Kedua (Sabtu, 24 Juli 2010)
Pelaksanaan kegiatan
pada hari pertama ini dimulai pada pukul 11.00-14.00 WIB. Peserta pelatihan
pada hari pertama ini diikuti sebanyak 34 orang guru TK. Agenda program
pelatihan pada hari kedua masih berupa pemberian materi berupa teori. Materi
pertama yang disampaikan berjudul “lingkungan sebagai sumber belajar untuk
mengembangkan aspek sosio emosional bagi anak TK”. Materi ini difasilitatori
oleh ibu Wuri Wuryandani, M.Pd. Diberikannya materi ini bertujuan agar
guru-guru TK memahami tentang pemanfaatan sumber belajar lingkungan untuk
mengembangkan aspek sosio emosional anak TK. Sementara itu materi kedua
berjudul “setting kelas untuk mengembangkan aspek sosio emosional anak TK”.
Materi ini difasilitatori oleh ibu Eka Sapti Cahyaningrum, M.M. Diberikannya
materi ini bertujuan agar guru mampu menciptakan setting kelas yang mendukung
pengembangan sosio emosional untuk Anak TK.
3. Pelaksanaan Hari Ketiga (Sabtu, 31 Juli
2010)
Pelaksanaan kegiatan
pada hari pertama ini dimulai pada pukul 11.00-14.00 WIB. Peserta pelatihan
pada hari pertama ini diikuti sebanyak 34 orang guru TK. Pada hari ketiga
pelatihan ini materi yang disajikan berjudul “pengemasan pembelajaran dengan
memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar untuk merngembangkan aspek sosio
emosional anak TK”. Materi ini difasilitatori oleh ibu Ika Budi Maryatun, M.Pd.
materi ini diberikan dengan tujuan agar guru-guru mampu melakukan pengemasan
rencana pembelajaran dengan memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar
untuk mengembangkan sosio emosional anak TK.
4. Praktik Pengemasan Pembelajaran
Kegiatan ini
dilakukan guru-guru di lapangan. Guru-guru mempraktikan materi teori untuk
diaplikasikan ke dalam praktik pengemasan pembelajaran yang berupa scenario
pembelajaran. Kecuali itu guru-guru dituntut untuk menjelaskan media yang
digunakan dalam scenario pembelajaran tersebut. Media dan sumber belajar yang
digunakan harus bersumberdari lingkungan sekitar sekolah. Kegiatan ini
dilakukan guru selama 16 jam (8 hari). Setiap dua orang guru harus menghasilkan
satu skenario pembelajaran yang disertai dengan media dan sumber belajar yang
digunakan.
5. Pelaksanaan Hari Keempat (Sabtu, 14 Agustus
2010)
Pelaksanaan kegiatan
keempat ini dimulai pukul 10.00-14.00 WIB. Kegiatan ini diisi dengan presentasi
dan diskusi dari peserta pelatihan tentang scenario pembelajaran yang mereka
hasilkan di lapangan. Setelah peserta pelatihan mempresentasikan hasil kerjanya,
kemudian mendapat masukan baik dari peserta lain maupun dari narasumber tentang
scenario pembelajaran yang telah dihasilkan.
Adapun
keberhasilan pelaksanaan pelatihan ini dinilai baik. Dari 36 orang peserta
sebanyak 20 orang peserta mmperoleh hasil sangat baik (85-90), dan 16 orang
peserta memeperoleh hasil baik (75-84).oleh karena itu pelatihan ini perlu dilanjutkan lagi dengan
pelatihan-pelatihan lain yang mendudukung pengembangan aspek sosial
emosionalanak TK agar guru memilikikemampuan yang baik dalam mengembangkan
kemampuan sosial emosi anak di dalam pembelajaran.
KESIMPULAN DAN SARAN
1.
Kesimpulan
Kesimpulan
dari kegiatan PPM bahwa:
a.
semua kegiatan terealisasi sesuai dengan rencana.
Dengan melalui kegiatan pelatihan ini peserta dinyatakan berhasil memiliki kemampuan mengemas scenario pembelajaran
untuk mengembangkan aspek sosio emosional dengan memanfaatkan sumber belajar
lingkungan.
b.
Indikator keberhasilan kegiatan pelatihan ini bahwa
semua peserta berada pada perolehan skor nilai 75-90, dengan sebutan Baik dan
Sangat Baik.
2.
Saran
Perlu diadakannya pelatihan lanjutan yang tidak hanya sampai
pada penyususnan scenario pembelajaran, akan tetapi sampai pada aplikasi
scenario pembelajaran tersebut dalam proses belajar mengajar di TK.
DAFTAR PUSTAKA
Arief S. Sadiman, dkk. (2006). Media
Pendidikan: Pengertian, Pengembangan, dan Pemanfaatannya. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Kirschenbaum, H. (1995). 100 Ways to Enhance Values and Morality in Schools and Youth Settings.
Massachusetts :
Allyn & Bacon.
Maimunah Hasan. 2009. Pendidikan
Anak Usia Dini. Yogyakarta: Diva Press.
Martini Jamaris.2006. Perkembangan
dan Pengembangan Anak Usia Taman Kanak-Kanak. Jakarta: Grasindo
Nana Sudjana dan Ahmad
Rivai. (2005). Media Pengajaran. Bandung: Sinar Baru Algesindo.
…………...2008. Permanfaatan Lingkungan Sebagai Sumber
Belajar. www.aristohadi.wordpress, diakses 12 Maret 2010.
…………… Pemanfaatan Lingkungan Sebagai Sumber Belajar
Anak Usia Dini. www.ilmuwanmuda.wordpress,
diakses 1 Maret 2010.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar